Thursday, May 22, 2008

Indahnya memberi

Helen Keller, seorang yang buta-tuli hingga akhir hidupnya karena sebuah sakit yang dideritanya pada umur 11 bulan, menjadi seorang yang dikenal sebagai orang pertama yang berhasil lulus dari sekolah tingkat perguruan tinggi. Dengan dibimbing oleh Anne Sulivan, seorang guru yang akhirnya mendedikasikan dirinya untuk mendidik Helen Keller dalam keadaan cacat, akhirnya segala jerih payah dan perjuangan Helen Keller untuk mengubah dunia menjadi tidak sia-sia. Banyak organisasi-organisasi sosial yang terinspirasi oleh cerita2 Helen Keller, bagaimana perjuangan dia ketika masih muda untuk menjadi orang yang berjuang di aras politik dengan dasar ideologi sosialis.

berikut kutipan perkataan beliau -----------------------------------------------------------
I was appointed on a commission to investigate the conditions of the blind. For the first time I, who had thought blindness a misfortune beyond human control, found that too much of it was traceable to wrong industrial conditions, often caused by the selfishness and greed of employers. And the social evil contributed its share. I found that poverty drove women to a life of shame that ended in blindness.
---------------------------------------------------------------------------------------------

Kebutaan bukan hanya bisa dilihat secara fisik, tetapi kebutaan juga bisa dilihat dari akibat kelemahan mental seseorang, kepasrahan diri seseorang untuk tidak berjuang dari kelemahannya untuk keluar dari kungkungan "kebutaan"nya.

Sungguh indah sebuah pernyataan dari Helen Keller ini. Ketika dia masih muda, banyak orang berpikir dia tidak akan bisa hidup lama karena penyakit di masa muda'nya yang mengakibatkan dia buta-tuli. Tetapi, sampai di penghujung hidupnya, dalam umur 88 tahun, dia tetap berkiprah untuk membuka mata dunia tentang arti kehidupan. Bahkan orang Jepang banyak yang tidak melupakan kiprah Keller bagi negara Matahari terbit ini. (kisah lengkapnya dapat dibaca di wikipedia)

Hidup tidak semata2 hanya karena meminta, tetapi juga memberi. Alangkah indahnya apabila kita hidup selalu memberi, tanpa meminta-minta. Helen Keller tidak memiliki apa-apa selain kemampuan untuk bertahan hidup dari keterbatasannya. Kemampuannya inilah yang menjadi inspirasi bagi semua orang yang hidup normal untuk senantiasa berusaha di kala dia susah. Kalau orang yang terbatas secara fisik saja mampu memberi, bagaimana dengan kita yang masih normal dan sehat walafiat ?

Marilah kita belajar memberi apa yang kita punyai, apa yang kita bisa berikan kepada orang lain. Bukan hanya perkara materi, tetapi juga hal-hal lain seperti ilmu, waktu, pemikiran, bantuan dan lain sebagainya.

No comments: