Showing posts with label Visi. Show all posts
Showing posts with label Visi. Show all posts

Thursday, July 8, 2010

JADILAH SEEKOR ELANG

Tidak ada seorang pun yang dapat membuatmu melayani pelanggan dengan lebih baik. Itu karena pelayanan yang baik adalah sebuah PILIHAN

Harvey Mackay, menceritakan sebuah kisah tentang seorang pengemudi taksi yang membuktikan hal ini.

Suatu hari ia sedang mengantri menunggu taksi di sebuah airport. Ketika sebuah taksi mendekat hal pertama yang ia perhatikan adalah keadaan taksi tersebut yang tampak sudah digosok hingga mengkilap. Pengemudi taksi yang terlihat sangat rapi dalam kemeja putih, dasi hitam dan celana panjang hitam tersebut keluar dan memutari taksi tersebut untuk membukakan pintu untuk Harvey.

Dia memberi temanku sebuah kartu yang telah dilaminating dan berkata:
“Saya Wally, supir anda. Selagi saya memasukan barang-barang anda ke bagasi, saya harap anda bersedia untuk membaca pernyataan misi saya.”

Harvey mengambil dan membaca kartu tersebut.

Di sana tertulis:
Pernyataan Misi Wally: “Untuk mengantarkan penumpang saya ke tempat tujuan mereka dengan cara tercepat, teraman, dan termurah dalam lingkungan yang bersahabat”.

Hal ini sempat membuat Harvey terkejut.

Terutama ketika ia menyadari bahwa keadaan di dalam taksi tersebut persis sama dengan tampak luarnya. Bersih tanpa noda!

Sambil mengemudi, Wally berkata, “Apakah anda mau segelas kopi? Saya memiliki satu thermos kopi biasa dan satu decaf.”

Sambil bercanda teman saya berkata, “Tidak, saya lebih memilih soft drink.”

Wally tersenyum dan berkata, “Tidak masalah. Saya memiliki pendingin yang berisi Cola, Diet Cola, air, dan jus jeruk.”

Harvey berkata dengan hampir tergagap, “Baiklah saya akan mengambil Diet Cola.”

Sambil memberikan minuman kepada Harvey, Wally berkata, “Bila anda membutuhkan bacaan, saya punya Wall Street journal, Time, Sport illustration dan USA Today.”

Sambil menepi, Wally menawarkan teman saya sebuah kartu berlaminating yang lain. “Ini adalah beberapa daftar stasiun radio dan musik yang dimainkannya yang dapat diputar disini bila anda berkenan mendengarkan radio.”

Dan seakan semua itu tidak cukup, Wally memberitahu Harvey bahwa AC telah dinyalakan dan bertanya apakah suhunya sudah cukup nyaman untuknya.

Kemudian ia menyarankan rute terbaik menuju tempat tujuannya di waktu seperti saat itu.

Dia juga berkata bahwa ia akan sangat senang untuk mengobrol atau menceritakan tentang beberapa pemandangan, atau jika Harvey lebih memilih untuk dibiarkan sendiri.

“Wally, tolong beri tahu saya,” dengan kagum teman saya bertanya kepada pengemudi tersebut, “Apakah anda selalu melayani setiap penumpang seperti ini?”

Wally tersenyum melalui kaca spion depan.

“Tidak, tidak selalu, malahan hal ini baru saya lakukan dua tahun belakangan ini. Selama lima tahun pertama saya mengemudikan taksi, saya menghabiskan sebagian besar waktu saya untuk mengeluh sebagaimana yang dilakukan kebanyak pengemudi taksi. Hingga suatu hari saya mendengar guru pengembangan pribadi, Wayne Dyer, di radio. Dia baru saja menulis sebuah buku berjudul ‘Anda akan Melihatnya Ketika Anda Mempercayainya’.”

“Dyer berkata bila kamu bangun di pagi hari dan mengharapkan hari yang baik, namun kamu sering mengeluh dan bersikap negatif terhadap setiap keadaan. Maka kamu akan mendapati hari-hari yg buruk.”

“Dia berkata, ‘Berhentilah mengeluh! Buatlah dirimu berbeda dalam kompetisi. Jangan menjadi seekor bebek. Jadilah seekor Elang.’ Bebek terbiasa mengeluh sedangkan elang terbang tinggi di angkasa dengan penuh kedamaian dan kemenangan.”

*diambil dari cerita motivasi*

Tuesday, January 8, 2008

Visi - Think Big

Ketika saya masih SD, teman2 selalu bilang - buat apa cari yang sulit kalau kita bisa menyelesaikan soal dengan cara yang mudah. Namun, dengan berjalannya waktu, kehidupan bertambah kompleks - permasalahan bertambah rumit, dan banyak hal yang membutuhkan kebijaksanaan dalam menyelesaikan persoalan kehidupan, bukan hanya persoalan ujian di sekolah yang menghasilkan nilai kelulusan.

Dengan terbiasanya pola hidup mencari cara yang mudah, hal ini sepertinya tertiup ke segala aspek kehidupan. Bahkan, banyak orang juga bakalan berpikir seperti saya, ketika menghadapi sebuah persoalan hidup. Kalau kondisi tempat kerja tidak enak, cari saja tempat kerja lain yang lebih enak. Kalau tempat tinggal tidak layak, cari tempat tinggal lain yang lebih layak. Kalau makanan di rumah tidak enak, pergi ke restoran saja. Kecenderungan ini membuat karakter kita tidak terasah dalam menghadapi kesulitan hidup dan membuat diri kita semakin mudah melarikan diri dari masalah. Mencari cara yang paling mudah untuk menyelesaikan masalah akhirnya berakar dan menjadi budaya yang cukup kuat di banyak kalangan masyarakat.

"our lives are not made by the dreams we dream but by the choices we make". Mengutip sebuah renungan kehidupan yang ditulis di Our Daily Bread, "choices" ada di tangan kita. Kehidupan yang selalu mencari cara yang mudah membuat kehidupan kita seakan hambar dan biasa-biasa saja. Ketika kita melihat sebuah tantangan besar menghadang, kita selalu bisa mencari 1001 alasan untuk mempermudah tantangan tersebut (atau bahkan menghindar dan menjauhi tantangan tersebut)

Inilah hidup manusia yang akhirnya tidak siap dalam berpikir besar (Think Big). Ketika melihat sesuatu yang besar, sepertinya ini adalah hal yang sulit. Kalau ada yang mudah, kenapa cari yang susah ?

Apakah pernah Anda membayangkan bagaimana Terusan Panama dibuat ? 4 tahun pembuatan terusan Panama yang akhirnya dibuka 1940an adalah sebuah proses yang membutuhkan ketekunan luar biasa. Banyak orang menyangsikan hasil Terusan Panama pada saat itu. Puluhan ribu orang dikerahkan untuk mega proyek yang menghabiskan jutaan dollar (pada masa itu). Hutan dipangkas dijadikan kanal. Rawa dimodifikasi menjadi bendungan. Alam yang tidak kondusif harus diatasi dengan pola pikir "engineering". Resiko demi resiko harus dihadapi untuk mendapatkan sebuah manfaat yang besar bagi dunia ini.
Banyak orang berpikir bahwa itu SULIT. Tetapi, Kennedy memilih orang-orang yang tepat untuk memimpin mega proyek tersebut, sehingga akhirnya Terusan Panama - saat ini - dapat dinikmati oleh para Logistic Vendor di dunia. Terusan Panama dapat memotong waktu perjalanan sebuah kapal muat container lebih dari 80% waktu perjalanan. Bukan hanya kapa muat container saja, tetapi banyak kapal-kapal lain menggunakan Terusan ini untuk mempersingkat perjalanan yang seharusnya berputar ke bagian Selatan terlebih dahulu. Dan, negara Panama mendapatkan keuntungan secara finansial dari adanya Terusan tersebut.

Opini kompas hari ini (9 Januari 2008) menuliskan mengenai perbedaan persepsi antara permasalahan dan solusi. Bencana banjir yang kerap terjadi - terutama setelah sungai Bengawan Solo meluap - seakan-akan hanya dapat ditanggulangi dengan pembuatan 20 waduk pengendali banjir dan penanggulangan akibat pembalakan liar yang membuat ekosistem semakin rusak. Hal ini tentunya tidak salah, tetapi justru saling melengkapi. Namun, pemikiran ini belum dilengkapi dengan dasar pemikiran yang lebih empiris yang bisa menyelesaikan permasalahan dalam jangka panjang. Solusi yang pernah dilakukan dulu seakan menjadi satu-satunya solusi yang memungkinkan tanpa melihat studi empiris yang lebih mendalam. Sebagai contoh, bagaimana negara Belanda yang mampu mengatasi banjir berkepanjangan yang dikarenakan negara ini berada di bawah permukaan laut. Pada saat muncul ide-ide solusi alternatif, banyak hal yang dialami pemerintah. Kesulitan demi kesulitan dihadapi, kritik diterima dan dijelaskan dengan studi yang lengkap. Dan, saat ini rakyat Belanda merasakan manfaat dari kesulitan dan keterpurukan yang berkepanjangan.

Masih banyak cerita kehidupan yang lainnya. Apa yang dipikir oleh orang sebagai sebuah kesulitan, apabila kita bisa bertekun - berusaha - berdoa - dan berserah, maka semuanya itu akan menghasilkan sebuah cerita yang bahkan kita tidak akan bisa mempercayainya. Yang Maha Kuasa akan memberikan tuntunan bagi siapa saja yang berserah dan berusaha serta berdoa memohon kekuatan dan penyertaanNya.

Bagaimana dengan diri kita ? Siapkah kita untuk berpikir Besar (Think Big) ?

Monday, January 7, 2008

"Pengiring" Visi

Negara Korea memiliki keunikan tersendiri, dalam hal makanan, budaya dan bahasa. Banyak hal yang berbeda dengan Indonesia, terutama dalam 3 hal tersebut. Tak heran apabila seseorang yang baru menginjakkan kakinya di Korea akan kebingungan dan berusaha mencari informasi selengkap-lengkapnya tentang banyak hal, meski ada juga yang akhirnya hidup terisolasi (menyendiri) karena takut salah dalam melangkah.

Beberapa hari yang lalu, saya mendapati seseorang yang baru datang di Korea dan kebingungan bagaimana bisa hidup di Korea (karena permasalahan seperti yang saya sebutkan diatas). Beliau terus mengirim email yang isinya kekhawatiran karena di Korea dia hidup sendiri, tidak tahu bahasa, bagaimana berkomunikasi, dll dsb. Hari ini saya membaca email dari beliau. Beliau menyatakan sangat gembira setelah beberapa hari di Korea, akhirnya bisa jalan-jalan dan melihat bahwa sebenarnya tidak terlalu sulit untuk menghadapi kenyataan hidup di Korea (terutama dalam hal bahasa). Hal ini tidak lain karena adanya teman-teman satu negara-nya yang membantu untuk melihat keadaan sekeliling dan mengajarinya untuk bisa "bertahan hidup".

Dalam kehidupan kita, seringkali kita mengalami hal yang sama. Setelah menyatakan berani melangkah pada suatu tujuan tapi akhirnya terhenti dengan ketakutan-ketakutan yang menghambat langkah kita. Ketakutan yang semestinya tidak perlu terjadi, ketakutan yang semestinya tidak perlu dikhawatirkan akhirnya menghantui perasaan kita dan membuat kita terhambat dalam melakukan hal yang "BISA" kita lakukan.

Ketika kita telah memiliki visi, janganlah kita terhenti melakukan hal yang telah terlihat jelas di depan mata kita. Raihlah mimpi itu. Raihlah visi itu. Terkadang, kita tidak bisa sendirian dalam meraih visi itu. Kita membutuhkan "pengiring". "Pengiring" yang saya maksud dari cerita di atas adalah teman-teman (satu negara, satu bangsa, seiman, satu daerah, dll dsb.) yang membuat kita mengerti tentang perjalanan hidup kita. Tetapi, jangan lupa.... bahwa kehidupan kita juga diiringi oleh SAHABAT SEJATI, SOBAT YANG SETIA, Pencipta kita...., yang selalu menyertai setiap langkah dan permasalahan dalam kehidupan kita.

Jangan takut melangkah. Kita memiliki "pengiring" yang agung yang selalu beserta dengan kita.

Visi - mimpi

Beberapa orang mengatakan, visi = mimpi. Bagaimana pendapat Anda ?

Saya tidak berani mengatakan benar atau salah. Hal ini bisa dianggap benar karena apa yang menjadi ambisi, tujuan, harapan kita di masa depan, itu bisa diterjemahkan dalam satu kata - VISI. Tetapi, tidak selalu yang menjadi impian itu bisa diterjemahkan menjadi visi.

Mari kita simak beberapa hal berikut ini.
Presiden Korea terpilih (pemilu Des 2007) memiliki visi meningkatkan perekonomian Korea lebih daripada sebelum-sebelumnya. Mayoritas pemilih presiden Lee adalah orang-orang yang menginginkan adanya kenaikan ekonomi di negara ginseng ini. Oleh sebab itu, apa yang diimpikan oleh eks-walikota Seoul ini juga melihat apa yang diekspektasikan oleh masyarakat Korea Selatan pada umumnya.

Pada awal Januari 2008, Korean Times menuliskan beberapa target yang akan dicapai oleh pemerintahan Presiden Lee. Hal yang paling mencengangkan adalah pembuatan Kanal sepanjang kurang lebih 450 km (dari Seoul ke Busan) untuk mempermudah jaringan logistik di Korea Selatan. Media transportasi air dianalisa lebih murah dibandingkan media transportasi lainnya. Dan, hal ini tidaklah mustahil untuk dilakukan, mengingat negara Amerika Serikat telah menerapkannya pada beberapa negara bagiannya dan Dubai telah memulai proyek ini di UEA. Namun, berdasarkan polling warga, 70% menyatakan ragu tentang keberhasilan proyek ini (yang akan memakan waktu 2 tahun)
http://www.koreatimes.co.kr/www/news/nation/2008/01/123_16547.html

Berita lainnya adalah target untuk mencapai pendapatan per kapita sebesar US$ 31.000 pada tahun 2012. Kalau hal ini dapat terjadi, maka Korea akan termasuk dalam 7 negara yang memiliki pendapatan per kapita terbesar se dunia.
http://www.koreatimes.co.kr/www/news/nation/2008/01/123_16552.html

Apakah ini mimpi ? Apakah ini visi ? Sebuah visi berangkat dari sebuah mimpi yang akhirnya diterjemahkan ke dalam misi. Visi untuk meningkatkan perekonomian negara diikuti dengan misi-misi kecil, membuat kanal dan proyek peningkatakan pendapatan per kapita yang disertai dengan target spesifik. (2 tahun proyek Kanal - pendapatan per kapita sebesar US$31.000)

Sama halnya dengan kepemimpinan diri kita. Apabila kita memiliki visi atau mimpi, baiklah kita menerjemahkannya dalam hal yang realitas - dalam bentuk numerik atau deklarasi pernyataan - yang membuat kejelasan dari visi atau mimpi tersebut.
Nehemia adalah seorang yang bisa menjadi contoh tentang pentingnya sebuah visi. Visi yang tertanam dalam hati Nehemia adalah membenahi tembok Yerusalem. Dan segenap misi yang dilakukan olehnya dapat kita cerna lebih dalam di kitab Nehemia.

Tanpa adanya visi yang jelas, maka hidup kita tidak akan bisa berjalan pada arah yang benar. Tentu saja, ketika kita memiliki visi, bukan hanya mengandalkan kekuatan diri kita sendiri, tetapi harus melihat siapa yang menciptakan diri kita. Allah telah menciptakan diri kita segambar dengan rupa Allah dan kita diberi mandat untuk berkuasa dan menaklukkan bumi. (Kej 1 : 27-28). Oleh karena itu, sudah sepantasnya visi atau mimpi yang kita buat diperuntukkan kepada sang Pencipta kita, untuk kemuliaan Allah di muka bumi ini. Dan, sebagai anak-anakNya, kita akan diberikan visi yang tepat untuk kita jalankan selama kita hidup di dunia ini.

Carilah visi itu agar hidupmu semakin berharga di hadapanNya.

Thursday, January 3, 2008

Visi - pentingkah ?

Tempat saya sekolah saat ini - Pusan National University (PNU) - memiliki sebuah visi yang sangat konkret.

Tahun 2015 akan menduduki peringkat 10 se-Asia dan peringkat 100 se-dunia.

Apakah hal ini tidak mungkin ? Apakah hal ini terlalu sombong ? Apakah hal ini terlalu dibesar-besarkan ?

Sepertinya, ini adalah sebuah tujuan yang hendak diraih, tanpa mengabaikan kemampuan dan segenap sumber daya yang dimiliki oleh kampus ini. PNU merupakan salah satu kampus nasional yang diperhitungkan di Korea Selatan. Tentunya, tidak mustahil apabila kampus ini menetapkan target yang sepertinya terlalu "berlebihan".

Dengan melihat segenap sumber daya yang ada, saya merasa bahwa kampus ini mampu meraihnya. Apalagi setelah melihat pemaparan misi per tahun hingga tahun 2015 (step 1 2007-2011 dan step 2 2011- 2015) , sepertinya mereka akan mampu meraih target yang diimpikan.

Kalau begitu, kembali ke pertanyaan awal. Visi - pentingkah ? Kalau tidak ada visi yang jelas, maka organisasi tidak akan berjalan dalam arah yang benar. Kalau Anda sedang berada dalam sebuah organisasi, atau anda sekarang adalah pemimpin sebuah organisasi, buatlah visi yang jelas agar semua orang di organisasi Anda, bawahan Anda, ataupun atasan Anda mengetahui target yang Anda akan hasilkan selama Anda berada di organisasi tersebut.