Showing posts with label Manajemen Perubahan. Show all posts
Showing posts with label Manajemen Perubahan. Show all posts

Thursday, July 8, 2010

JADILAH SEEKOR ELANG

Tidak ada seorang pun yang dapat membuatmu melayani pelanggan dengan lebih baik. Itu karena pelayanan yang baik adalah sebuah PILIHAN

Harvey Mackay, menceritakan sebuah kisah tentang seorang pengemudi taksi yang membuktikan hal ini.

Suatu hari ia sedang mengantri menunggu taksi di sebuah airport. Ketika sebuah taksi mendekat hal pertama yang ia perhatikan adalah keadaan taksi tersebut yang tampak sudah digosok hingga mengkilap. Pengemudi taksi yang terlihat sangat rapi dalam kemeja putih, dasi hitam dan celana panjang hitam tersebut keluar dan memutari taksi tersebut untuk membukakan pintu untuk Harvey.

Dia memberi temanku sebuah kartu yang telah dilaminating dan berkata:
“Saya Wally, supir anda. Selagi saya memasukan barang-barang anda ke bagasi, saya harap anda bersedia untuk membaca pernyataan misi saya.”

Harvey mengambil dan membaca kartu tersebut.

Di sana tertulis:
Pernyataan Misi Wally: “Untuk mengantarkan penumpang saya ke tempat tujuan mereka dengan cara tercepat, teraman, dan termurah dalam lingkungan yang bersahabat”.

Hal ini sempat membuat Harvey terkejut.

Terutama ketika ia menyadari bahwa keadaan di dalam taksi tersebut persis sama dengan tampak luarnya. Bersih tanpa noda!

Sambil mengemudi, Wally berkata, “Apakah anda mau segelas kopi? Saya memiliki satu thermos kopi biasa dan satu decaf.”

Sambil bercanda teman saya berkata, “Tidak, saya lebih memilih soft drink.”

Wally tersenyum dan berkata, “Tidak masalah. Saya memiliki pendingin yang berisi Cola, Diet Cola, air, dan jus jeruk.”

Harvey berkata dengan hampir tergagap, “Baiklah saya akan mengambil Diet Cola.”

Sambil memberikan minuman kepada Harvey, Wally berkata, “Bila anda membutuhkan bacaan, saya punya Wall Street journal, Time, Sport illustration dan USA Today.”

Sambil menepi, Wally menawarkan teman saya sebuah kartu berlaminating yang lain. “Ini adalah beberapa daftar stasiun radio dan musik yang dimainkannya yang dapat diputar disini bila anda berkenan mendengarkan radio.”

Dan seakan semua itu tidak cukup, Wally memberitahu Harvey bahwa AC telah dinyalakan dan bertanya apakah suhunya sudah cukup nyaman untuknya.

Kemudian ia menyarankan rute terbaik menuju tempat tujuannya di waktu seperti saat itu.

Dia juga berkata bahwa ia akan sangat senang untuk mengobrol atau menceritakan tentang beberapa pemandangan, atau jika Harvey lebih memilih untuk dibiarkan sendiri.

“Wally, tolong beri tahu saya,” dengan kagum teman saya bertanya kepada pengemudi tersebut, “Apakah anda selalu melayani setiap penumpang seperti ini?”

Wally tersenyum melalui kaca spion depan.

“Tidak, tidak selalu, malahan hal ini baru saya lakukan dua tahun belakangan ini. Selama lima tahun pertama saya mengemudikan taksi, saya menghabiskan sebagian besar waktu saya untuk mengeluh sebagaimana yang dilakukan kebanyak pengemudi taksi. Hingga suatu hari saya mendengar guru pengembangan pribadi, Wayne Dyer, di radio. Dia baru saja menulis sebuah buku berjudul ‘Anda akan Melihatnya Ketika Anda Mempercayainya’.”

“Dyer berkata bila kamu bangun di pagi hari dan mengharapkan hari yang baik, namun kamu sering mengeluh dan bersikap negatif terhadap setiap keadaan. Maka kamu akan mendapati hari-hari yg buruk.”

“Dia berkata, ‘Berhentilah mengeluh! Buatlah dirimu berbeda dalam kompetisi. Jangan menjadi seekor bebek. Jadilah seekor Elang.’ Bebek terbiasa mengeluh sedangkan elang terbang tinggi di angkasa dengan penuh kedamaian dan kemenangan.”

*diambil dari cerita motivasi*

Tuesday, January 12, 2010

Zona nyaman & Zona kebosanan

Saya baru menikmati liburan di Indonesia selama 2 minggu. Tak terasa, liburan 2 minggu tersebut serasa sangat singkat karena berbagai aktivitas yang begitu padat. Semua hal yang dilakukan dalam 2 minggu tersebut meninggalkan banyak kenangan indah karena semuanya harus dilakukan untuk memenuhi rasa kangen keluarga dan Indonesia.

Merupakan sebuah pergumulan yang berat ketika harus meninggalkan Indonesia dan kembali ke rutinitas belajar. Sebuah zona nyaman (kehidupan di Korea) yang kemudian diganti dengan sebuah refreshing dan kenikmatan hidup, yang pada akhirnya berubah menjadi sebuah zona kebosanan. Liburan 2 minggu telah memberi perubahan makna zona nyaman (keseharian hidup di Korea) menjadi zona kebosanan ketika ada waktu-waktu berharga bersama keluarga yang begitu indah yang telah hilang selama menikmati zona nyaman tersebut.

Pemaknaan hidup selama liburan di Indonesia memberi sebuah sisi positif tersendiri bagi kehidupan saya. Pada awalnya, saya melihat kehidupan di Korea begitu enak. Tetapi, setelah kepulangan ke Indonesia, hidup enak itu tidak dapat dilihat dengan perspektif diri sendiri. Tetapi, kita harus melihatnya secara holistik.

Maksud dari holistik adalah melihat kehidupan kita dari orang terdekat di sekitar kita. Kita tidak hidup untuk diri kita sendiri. Ketika kita hidup sebagai mahluk sosial, kita sedang hidup bersama dengan keluarga, teman, saudara, dan orang-orang lain yang mendukung aktivitas kita. Rasa nyaman kita akan semakin goyah ketika kita bisa merasakan bagaimana kasih dan perhatian dari orang-orang terdekat semakin hilang. Dan, ketika kita kehilangan kasih dan perhatian itu, maka zona nyaman kita akan berubah menjadi zona kebosanan. Pada akhirnya, kita justru berharap lepas dari zona nyaman itu kembali kepada sebuah tempat dimana kasih dan perhatian itu dapat kita rasakan sepanjang waktu.

Saya bisa merasakan bagaimana kasih bisa mengalahkan segala hal dalam kehidupan kita. Betul, kasih yang sempurna akan memberi kelegaan pada kehidupan kita walau hidup kita dalam kondisi yang tidak nyaman. Asalkan hidup dipenuhi dengan kasih sayang, maka hidup kita akan merasa tentram dan nyaman. Kehidupan yang tidak nyaman akan menjadi lebih nyaman ketika kita merasakan adanya kasih dan perhatian tersebut.

Perubahan tidak selalu baik. Namun, perubahan diperlukan untuk memberi kesegaran pada setiap rutinitas kehidupan kita. Apabila kita merasakan ada sisi positif dari perubahan dalam jangka waktu tertentu, artinya kita sedang terlilit dalam zona nyaman yang terkungkung oleh batasan waktu. Kita perlu berpindah sejenak dari zona nyaman kita untuk melihat bagaimana dinamika dunia sekitar kita untuk melihat dunia dari kacamata yang berbeda.

Saya bersyukur bisa pulang dan kembali ke Korea lagi. Terlebih lagi, saya bersyukur saya bisa bersama keluarga di Indonesia yang begitu setia menanti saya dan memberi perhatian yang luar biasa selama saya pulang di Indonesia. Saya dirawat dan diperhatikan seperti tamu agung. Dan, saat ini, kenangan indah itu hanya menjadi memori. Saya harus kembali ke Indonesia lagi untuk memberi yang terbaik bagi keluarga saya di Indonesia.

Tuesday, June 23, 2009

Berbeda itu Indah, Seragam itu Konsisten

Di tengah dunia yang sedang memiliki berbagai varian produk, jasa, dsb., maka kita sedang diperhadapkan pada keberagaman. Keberagaman akan sesuatu menciptakan slogan umum di masyarakat.. Berbeda itu Indah.

Ketika kita melihat kumpulan warna pelangi (me-ji-ku-hi-bi-ni-u), warna tersebut terlihat indah sekali. Ketika kumpulan warna tersebut dilukiskan pada sebuah lingkaran dan diputar dengan kecepatan cepat, maka terlihatlah sebuah warna putih. Sebuah penemuan sederhana yang cukup memukau dan membuat penasaran para kaum ilmuwan mengenai perpaduan warna tersebut, yang pada akhirnya juga kembali pada sebuah warna dasar dan konsisten ketika kita melakukan sebuah proses.

Hari ini saya membaca sebuah artikel berjudul "Konsisten dengan Plontos". Ada sebuah hal khusus dengan kata-kata itu. Kemarin, saya dan istri bersama seorang teman menonton televisi Indonesia via internet. Maklum, udah hampir 3 tahun di LN, saya kaget ketika istri saya nyeplos ketika melihat salah satu iklan di TV swasta Indonesia. Ternyata, kata-kata dalam iklan tersebut tidak berubah sama sekali. Yang berbeda hanyalah cara penyajian iklan dan tampilan warna serta desain kemasan produk.

Ketika membaca artikel dengan judul diatas, saya jadi teringat dengan iklan yang dimaksud istri saya. Konsistensinya membuat nama produk itu tetap diingat. Saya yakin, banyak pemirsa juga bisa mengingat kata2 iklan, lagu, atau bahkan model khusus yang memang dipakai oleh produk atau jasa tersebut secara konsisten. Ambillah contoh produk susu kemasan (seperti Ovaltine, Milo) yang selalu identik dengan olahraga.

Ternyata, konsistensi tidaklah selalu buruk. Ketika slogan "berbeda itu indah", saya juga cenderung mengatakan "seragam itu pun indah". Ada indikasi-indikasi tertentu ketika seseorang berspekulasi mengatakan "berbeda itu indah" berkaitan dengan keinginan individu yang berbeda dengan selera pada umumnya. Dan, varian yang muncul akibat perbedaan inilah yang bisa membuat semangat persatuan menjadi luntur.

Dunia industri telah menunjukkan adanya perubahan dari "mass production" menjadi "customization". Hal ini mengubah kultur konsumen menjadi lebih fleksibel bahkan menjadi individualistis dengan kaitan seni dan persepsi rasa suka secara pribadi tanpa melihat unsur global yang lebih general. Ambil contoh, mobil yang diproduksi secara massal dapat dipermak menjadi spesifik dengan modifikasi di salon mobil (ganti bemper, tempel stiker, tambah audio, dll.) dan kemudian digunakan di jalanan umum sambil memasang lagu keras-keras dengan menggunakan lampu berwarna biru. Keberbedaan yang mencolok justru menunjukkan keegoisan, bukan ?

Oleh karena itu, kita perlu aware dengan istilah di atas. Berbeda itu indah dalam hal-hal tertentu. Tetapi, ketika kita ditempa dalam sebuah masyarakat, ada baiknya kita memiliki standard konsistensi untuk mengetahui standard kebenaran, standard kepuasan, standard ketepatan dalam segala lini kehidupan kita.

Friday, July 4, 2008

Perubahan membutuhkan usaha

Sebuah perubahan bukan hanya berbicara visi, tetapi membutuhkan usaha yang sangat besar. Setelah "dihajar" dengan demonstrasi warga selama 2 bulan lebih tentang isu impor sapi gila dari Amerika Serikat, Presiden Korea Selatan akhirnya juga tidak bisa bernegosiasi dengan Washington untuk meloloskan keinginan warganya. Dan, perubahan yang dilakukan hanyalah sebatas pengaturan aturan karantina daging sapi yang bermasalah dan sistem pemeriksaan yang diperketat seputar isu sapi gila.

Protes keras tetap menghantui beberapa kota besar, meski Presiden dan kabinetnya menjamin keamanan daging sapi yang akan masuk ke Korea Selatan. Alhasil, para pelaku industri makanan (restoran dan supplier) semua menempelkan label "Daging sapi impor dari Australia" untuk mengurangi kekhawatiran penurunan penjualan dari industrinya.

Dengan melihat perilaku konsumen, para ahli tidak tinggal diam dengan keadaan yang semakin tidak menentu. Para ahli pemasaran bertindak cerdik dengan memberikan diskon tunda, yang membuat para konsumen berharap akan mendapatkan daging sapi impor Amerika yang harganya jauh lebih murah hingga 60% dari harga daging sapi Korea.

Peningkatan volume penjualan yang dialami toko daging di Seoul pun terjadi. Toko daging ini tidak pernah memperkirakan bahwa dagingnya akan terjual sedemikian larisnya. Dalam sehari buka, setelah tokonya tutup beberapa hari dan memberi penawaran "big sale" untuk daging sapi Amerika pada saat akan buka lagi, toko ini mendapatkan pendapatan 1.5 juta won (atau setara 15 juta rupiah) untuk penjualan daging sapi Amerika.

Meski orang masih dihantui perasaan cemas adanya penyakit sapi gila, tetapi perilaku konsumen membeli produk dengan harga murah dan jaminan kesehatan yang dipastikan oleh pemerintah tetap memegang dominan dalam ekonomi. Sepertinya, kita akan melihat perubahan masyarakat Korea secara perlahan. Mereka akan bisa menerima daging sapi impor dari Amerika pada suatu hari nanti.

Perubahan tentunya membutuhkan usaha dan pengorbanan. Pengorbanan materi bahkan pengorbanan harga diri seorang presiden turut ambil bagian dari masalah daging impor ini. Semoga semua pengorbanan ini membawa ke arah yang lebih baik.

Tuesday, June 24, 2008

Perubahan = resiko

Improvement & Revolution mengandung makna yang sama dalam kamus perubahan. Namun, kata improvement lebih menekankan bagaimana sebuah perubahan itu naik secara perlahan-lahan menuju sebuah tingkatan. Sedangkan revolution mengarah pada sebuah perubahan yang meloncat dari suatu titik ke titik yang jauh lebih tinggi atau bahkan jauh lebih rendah.

Sebuah mobil, akan memiliki akselerasi yang lebih bagus ketika telah dipakai lebih dari 5.000 km. Ketika kita merawat dengan baik, maka mobil tersebut akan tetap memiliki kemampuan bergerak sesuai yang diharapkan. Tetapi, di lain sisi, mobil tersebut mengalami penurunan kualitas, karena aus, gesekan, pengikisan, dsb. Untuk menjaga agar mobil dapat dipakai lebih lama, maka perawatan intensif sangat dibutuhkan. Atau, perlu pemberian nutrisi bahkan hingga penggantian spare part untuk menjaga kualitas pergerakan mobil tersebut.

Nah, bagaimana caranya merawat mobil dengan intensif ? Bagaimana menentukan pelumasnya ? Bagaimana menentukan spare-part yang tepat ?
Untuk meningkatkan akselerasi kendaraan, maka kita perlu merubah pelumas yang biasa kita pakai dengan pelumas yang lain. Untuk meningkatkan kualitas kendaraan, kita perlu mengganti spare part yang ada dengan spare part baru. Artinya, kita perlu menyiapkan perubahan terhadap mobil kita untuk menjadi lebih baik di kemudian hari.

Sama dengan halnya diri kita. Ketika kita sudah capek, sudah kelelahan, sudah tidak bisa menentukan arah hidup kita lagi, kita perlu memperbarui "pelumas" kita, atau mungkin kita perlu mengganti "spare-part" diri kita. Apa pelumas dan spare-part dari diri kita ? Tidak lain adalah input yang masuk dalam mulut dan pikiran kita. Apa yang masuk sebagai makanan dan apa yang masuk sebagai ilmu akan memperbaharui diri kita lebih baik di masa yang akan datang.

Tentunya, pembaharuan itu akan mengandung resiko yang tidak bisa dipastikan. Biasanya makan burger, sekarang jadi makan nasi. Biasanya selalu belajar marketing, sekarang belajar manajemen operasi. Nah, hal ini yang bisa menambah kualitas kita, namun mengandung resiko yang tidak bisa dihitung hasilnya di kemudian hari. Apakah akan berbeda hasilnya ketika kita makan burger sebelumnya, dan sekarang harus makan nasi? Apakah berbeda kalau dulu jurusan saya sebelumnya adalah marketing, dan saat ini harus mengambil manajemen operasi ?

Perubahan = resiko. Artinya, kemampuan kita untuk melihat apa yang harus kita rubah, akan menentukan masa depan kita. Semakin tinggi resiko yang kita ambil, maka revolusi akan bisa terjadi. Tetapi, semakin kecil resiko yang kita ambil, maka improvement'lah yang akan terjadi. Janganlah sembarangan berubah. Karena, kita sebagai manusia selalu menyesal terlambat. :)

Monday, June 16, 2008

Gado-gado pake wortel - berbeda itu wajar

Apakah anda pernah melihat masakan Gado-gado mengandung wortel di dalamnya ?

Saya ketawa geli ketika ada seorang teman yang sedang makan gado-gado, kemudian dia berkata seraya bertanya kepada si koki "Gado-gado'nya mantap banget. Cuma sayang, ga ada wortelnya." Beberapa orang yang mendengar, termasuk saya, tertawa mengejek teman kami yang mengatakan bahwa gado-gadonya tidak mengandung wortel.

Setelah kami tertawa-tawa, ternyata ada beberapa teman lain yang nyeplos "Lo, gado-gado di Jogja dan Solo itu pakai wortel juga". Dan, beberapa teman yang asal Jogja dan Solo juga membenarkan pernyataan tersebut.

Seringkali, dalam kehidupan kita, kita akan menertawakan hal-hal yang berbeda dari apa yang biasanya. Karena kita telah terbiasa hidup dengan cara A, maka kita akan menertawakan orang yang hidup dengan cara B. Karena kita terbiasa makan dengan cara A, maka kita akan menertawakan orang yang makan dengan cara B.

Berbeda itu adalah hal yang wajar. Apabila kita menemukan sisi yang berbeda dari rekan kita, sudah selayaknya kita mencari tahu lebih dalam lagi sebelum kita menghakimi dengan menertawakannya. Tetapi, manusia seringkali terlebih dahulu menertawakan daripada mencari tahu terlebih dahulu.

Gado-gado pakai wortel tersedia juga di Indonesia. Jadi, jangan menertawakan orang lain sebelum kita mengetahui kebenarannya.

Tuesday, June 10, 2008

Perubahan besar dan perubahan kecil

Manusia selalu berusaha untuk meraih sesuatu dengan instan, dengan cepat, tanpa biaya, langsung tanpa harus menunggu, dan lain sebagainya. Intinya, perubahan yang cepat, baik dan menguntungkan... itulah yang selalu diharapkan setiap orang.

Pertanyaan berikutnya: Siapa yang tidak ingin kaya mendadak ? Siapa yang tidak ingin sukses mendadak ? Siapa yang tidak ingin pintar mendadak ? Sepertinya, pertanyaan ini adalah sebuah pertanyaan yang akan dijawab "YA, saya mau" oleh kebanyakan orang. Tetapi, kita lupa bahwa dibalik sebuah perubahan, ada makna yang tersembunyi.

Manusia lupa dengan apa yang dinamakan "proses". Proses dibutuhkan agar hasil perubahan yang terjadi tidak berlangsung sejenak, tetapi kekal. Proses dibutuhkan agar kenikmatan hasil dari perubahan dapat dirasakan selamanya.

Dari tahun lalu, saya selalu berusaha membaca journal dengan cepat. 1 hari target membaca sebuah journal ataupun conference paper untuk kemajuan penelitian saya. Setiap hari saya selalu tekun membaca topik2 yang berkaitan dengan penelitian saya. Saya selalu berharap, minggu depannya saya bisa menemukan sebuah topik baru untuk saya tulis sebagai hasil penelitian. Begitu pula minggu depannya, saya selalu berharap ada hasil penelitian dari apa yang telah saya baca. Saya berharap ada perubahan besar yang terjadi dengan membaca sebuah atau 2 buah journal. Tetapi, apa yang saya hasilkan ? Selama 1 tahun (lebih dari 20 hasil penelitian), saya cuma belajar hal dasar yang telah dikembangkan selama 1 dekade terakhir. Saya hanya BELAJAR, tanpa hasil apapun juga.

Awalnya, saya kecewa dengan keadaan saya. Saya kok cuma bisa belajar, saya kok cuma bisa membaca journal tanpa implementasi dari apa yang saya pelajari. Ternyata, apa yang saya pikirkan semuanya akhirnya berbeda. Saya mendapat sebuah hikmat baru dari apa yang telah saya pelajari.

2 orang teman saya sedang mengerjakan thesis untuk kelulusan mereka. Dalam satu minggu ini, mereka sering ke tempat saya untuk menanyakan topik yang sedang mereka kerjakan. Ternyata, professor menghendaki semua orang di lab melakukan penelitian sesuai topik yang saya pelajari. Dan, hanya saya yang mendalami ilmu tersebut. Sehingga, semua orang - mau tidak mau - harus bertanya kepada saya untuk mendapatkan informasi yang cepat, tepat dan akurat.

Saya baru merasakan bahwa apa yang saya pelajari selama 1 tahun sedang berbuah saat ini. Saya selalu merasa bahwa apa yang telah saya pelajari masih belum berguna. Ternyata, dalam minggu2 ini saya semakin mendapat ide untuk implementasi, dikarenakan ide-ide dari paper-paper hasil penelitian yang saya baca akhirnya diterapkan di thesis 2 teman saya tersebut. Ilmu saya semakin terasah dan saya menemukan jalan kembali untuk implementasi.

Apakah Anda pernah mengeluh seperti saya ? Apakah anda pernah mengalami sebuah proses panjang, dimana saudara tidak merasakan bahwa hidup Anda sedang berbuah ? Buahnya tidak bisa diprediksi, kapan akan dimakan, kapan akan dirasakan. Tetapi, ketika kita setia dalam hal yang diserahkan kepada kita.. ketika kita setia dalam perubahan kecil, maka sebuah hasil dari perubahan itu akan menanti kita di kemudian hari. Dan, perubahan kecil justru hasilnya lebih dahsyat daripada sebuah perubahan besar. Apakah anda percaya hal ini ?

Monday, June 9, 2008

Berubah - awalnya nggak enak tapi akhirnya bisa jadi enak

Pernahkah kita merasa bahwa melakukan sesuatu hal yang baru adalah sesuatu yang tidak menyenangkan ? Pernahkah kita berusaha menghindar untuk melakukan sesuatu hal yang tidak biasa kita lakukan, karena hal tersebut masih baru ?

Hampir satu tahun saya menggunakan kertas A4 dengan berat 80 gram. Di lab saya, mau print apa aja .. silakan. Pakailah kertas sebanyak yang kamu mau untuk kepentingan research. Tiba2, harga barang2 di Korea meningkat seiring dengan pengaruh kenaikan harga minyak dunia. Begitu pula harga kertas. Dan, hal ini mengakibatkan adanya efisiensi di beberapa sektor, seperti penghematan kertas.

Ternyata, bukan jumlah kertas'nya yang dihemat, tetapi ukuran kertasnya yang disesuaikan. Saat ini, lab kami menggunakan kertas A4 dengan berat 75 gram. Sepertinya sih tidak jauh beda. Tetapi, pada saat awal perubahan, terasa sekali bahwa kertas 75 gram itu sangat tipis, karena bisa terlihat tembus pandang ke belakang (karena sinar di lab saya terang sekali). Pada hari yang sama, saya mencari tumpukkan kertas ukuran 80gram yang tersisa di gudang, tapi ternyata tidak ada sisa lagi. Semua telah tergantikan dengan kertas 75 gram.

Mulailah hari2 saya dengan menggunakan kertas A4 - 75 gram, yang serasa tipis sekali - dibandingkan kertas 80 gram. Saya merasa tidak nyaman dengan kertas ukuran baru ini. Tetapi, tidak ada pilihan lain. Begitulah saya menggunakan kertas ini selama kurang lebih 2 bulan lebih.

Ternyata, hingga saat ini, saya sudah tidak merasakan tipisnya kertas itu. Saya justru berpikir bahwa kertas ini seperti kertas A4 80 gram. Tidak berbeda jauh dengan yg 80 gram.

Seringkali kita melihat sebuah perubahan dengan membandingkan yang dulu dengan yang baru. Dan, seringkali kita melihat bahwa kondisi yang dulu itu menyenangkan dan enak, sehingga hal itu membuat kita mengeluh dengan kondisi yang baru. Marilah kita belajar bersyukur dengan apa yang kita dapatkan. Perubahan belum tentu menghasilkan sesuatu yang buruk. Dengan berjalannya waktu, perubahan akan menjadi sebuah kebiasaan yang akhirnya dapat kita nikmati sebagai sebuah berkat Tuhan yang unik dari kehidupan kita sebelumnya. Sudahkah kita bersyukur atas perubahan yang telah kita alami dalam hidup ini?

Wednesday, June 4, 2008

Ada yang maju dan ada yang tidak maju di negara maju

Setiap manusia pasti memiliki kelebihan dan kelemahan. Ketika kita mengoptimalkan dan mengembangkan kelebihan kita, maka kita akan berhasil. Namun, ketika kita terlena dengan kelemahan kita, maka kita akan semakin terperosok.

Beberapa bangsa maju melihat diri mereka sebagai bangsa yang memiliki kelebihan di tengah kekurangan mereka. Dan, sebagai orang yang melihat negeri tersebut dari luar, maka selalu terlihat kelebihannya daripada kelemahannya. Benarkah demikian ?

Mari kita lihat beberapa kejadian berikut ini.
http://uk.youtube.com/watch?v=fJuNgBkloFE
Video ini menggambarkan bagaimana keadaan di sebuah negara maju yang masih memiliki kelemahan (meski tidak semua orang seperti yang diwawancarai)

Kejadian yang lainnya. Ketika saya bepergian ke Jepang dan akan kembali ke Korea, ada orang Jepang yang bersama-sama dalam satu pesawat. Sepertinya orang ini baru pertama kali naik pesawat. Apa yang terjadi ? Dia menyalakan HP pada saat pesawat tinggal landas. Dan, dia melakukan panggilan telepon pada saat pesawat mengudara. Ternyata, di sebuah negara maju masih ada orang yang 'katrok'.

Bagaimana pada waktu di Korea? Ketika saya naik subway, banyak orang Korea yang masih bertanya bagaimana cara naik subway. Bahkan, tidak sedikit yang menganggap saya orang Korea dan bertanya kepada saya "Bagaimana caranya beli tiket subway? Kalau mau ke tempat A, harus naik line yang mana? dsb. dll. "..... saya bisa kategorikan hal ini sebagai katrok juga.

Beberapa hal diatas menunjukkan bahwa di tengah kemajuan sebuah bangsa, masih ada orang-orang yang tertinggal. Dan, hal ini menunjukkan bahwa tidak ada sesuatu yang sempurna.

Negara2 di atas termasuk dalam negara maju, namun masih bisa ditemukan beberapa kelemahan di dalamnya. Tetapi, apakah hal itu membuat dunia menyangsikan tentang kemajuan bangsa itu ? Apakah mereka memperhitungkan kelemahan bangsa itu ?

Tentu saja tidak, bukan ? Negara tersebut masih tetap dianggap maju karena faktor-faktor yang lainnya, seperti perhitungan pertumbuhan ekonomi, perhitungan GDP nasional, dll. Dan, orang-orang yang melakukan perubahan dahsyat adalah orang-orang yang memang berniat untuk maju dan tahu terlebih dahulu daripada orang-orang lainnya.

Bukan berarti orang-orang yang tidak maju adalah orang-orang yang tetap pada posisinya dan tidak mau maju. Lingkungan sekitar mereka membuat mereka akhirnya maju dengan sendirinya. Dan, sedikit demi sedikit... orang-orang yang tidak maju akan menjadi maju karena lingkungan yang membentuk mereka untuk maju.

Siapa yang membentuk lingkungan tersebut ? Tidak lain dan tidak bukan adalah seorang manusia. Seorang manusia, yang tahu terlebih dahulu, yang belajar lebih dahulu, yang punya pengaruh, yang mengerti ttg kehidupan terlebih dahulu... memberi pengaruh sehingga efek pengetahuan dia menjadi sebuah pengaruh besar bagi negara dan menyebabkan orang-orang lain untuk - mau tidak mau - harus maju atau dikatakan sebagai orang bodoh karena tidak mau maju.

Oleh karena itu, jangan meremehkan diri anda ketika anda hidup. Kelemahan yang anda miliki saat ini bukan berarti kelemahan yang akan anda miliki di masa depan. Kelemahan itu akan berubah menjadi kekuatan seiring dengan berjalannya waktu dengan menyesuaikan keadaan lingkungan dimana kita tinggal. Kelemahan itu akan berubah menjadi sebuah kekuatan yang mampu mendorong orang lain untuk beranjak dari kelemahan mereka dan menemukan kekuatan mereka.

Orang-orang pada contoh di atas adalah orang-orang yang bisa dikatakan 'bodoh'. Tetapi, karena pengaruh lingkungan yang mengatakan bahwa negara tersebut sangat pandai dan maju, maka mau tidak mau mereka harus bergerak maju.

Mari kita atasi kelemahan kita. Tidak selamanya kita akan terkungkung oleh kelemahan kita. Memiliki kelemahan adalah hal yang wajar dan tidak perlu sedih berkelanjutan akibat kelemahan kita saat ini. Mari maju bersama-sama. Bersama kita bisa ... (wah, jadi kayak kampanye.. hehehe).

Monday, June 2, 2008

Speed....

Hari ini saya mendapat sebuah cerita dari seorang teman (dari Vietnam) yang suka dengan olahraga Sepak bola. Minggu lalu, teman2 dari Vietnam mendapat kesempatan bertanding dengan salah satu tim sepak bola teman2 Korea di sebuah kampus negeri di daerah Busan.

Dia berkata bahwa Korea memang sangat cepat. Memang tidak salah kalau Korea punya kata "pali-pali". Salah satu hal yang membuat dia terkagum-kagum adalah ketika dia mau memperebutkan bola. Dia berada kurang lebih 5 meter dari bola. Dan, seorang lawan berada lebih jauh dari bola (di belakang teman saya). Dia adalah orang yang paling dekat dengan bola pada saat itu. Otomatis, dia akan datang menghampiri bola tersebut.

Dia lari untuk mengambil bola tersebut. Tetapi, ketika dia berjarak hampir 1 meter dari bola, tiba-tiba dia telah tersalip oleh orang Korea yang berada di belakangnya. Dan, orang Korea itu berhasil mengambil bola tersebut.

ck ck ck..... begitulah decak kagum dia ketika orang Korea tsb berhasil merebut bola. Saya tidak menanyakan hasil terakhirnya, yang pasti pertandingan dimenangkan oleh teman2 Korea.

Teman saya mengatakan bahwa kecepatan itulah kunci dari sebuah permainan / olahraga. Kalau orang sudah bisa menguasai kecepatan, selanjutnya orang tersebut tinggal belajar kontrol dari permainan atau olahraga yang dimaksud.

Kebudayaan Korea yang begitu mendasar (pali-pali .. yang artinya adalah cepat-cepat) membuat mereka sangat cepat dalam segala bidang. Alhasil, bukan saja dalam hal sepakbola yang dialami teman saya, tetapi juga dalam berbagai aspek seperti pertumbuhan ekonomi tercepat sedunia (OECD record, source: wikipedia.org), pertumbuhan GDP per kapita tercepat sedunia, dan masih banyak prestasi lainnya yang diakui dunia karena faktor kecepatan.

Tidak selamanya faktor kecepatan itu menentukan pemenang sebuah pertandingan/kompetisi/ atau kontes apapun juga. Tetapi, kecepatan adalah salah satu faktor yang bisa membuat orang lain cukup gentar untuk menghadapi lawannya.

Semoga terinspirasi dengan faktor "kecepatan" yang selalu menjadi dasar kebudayaan orang Korea saat ini.

Thursday, May 29, 2008

Bermuka Dua

Apakah anda pernah mendengar istilah bermuka dua ? Ketika berhadapan dengan si A, dia tampil dengan wajah gembira, penuh keceriaan, tanpa kesedihan. Namun, ketika berhadapan dengan si B, dia tampil dengan wajah cemberut, wajah sedih, tampang tak berdaya dan seraya butuh bantuan.

Inilah orang yang bermuka dua. Bisa tampil berbeda di waktu yang sama untuk orang yang berbeda. Capek juga kalau ketemu orang seperti ini. Namun, hidup kita pasti tidak akan terlepas dari tipikal orang-orang seperti ini.

Begitulah kehidupan sehari-hari di lab saya. Teman saya baru saja menunjukkan tampang sedih, tampang tak berdaya, susah, capek, pokoknya yang jelek2 di hadapan saya.... tiba2 raut mukanya berubah menjadi gembira, penuh senyum, bersemangat ketika datang seorang professor menemui saya. Lain orang harus dihadapi dengan cara berbeda, untuk menunjukkan respek, penghargaan dan justru belas kasihan. hehehe...

Alangkah indahnya, kita bisa tampil segar, ceria, senyum selalu .. tanpa ada tedeng aling-aling, tanpa disertai dengan itikad buruk (cari muka, ataupun berusaha menunjukkan tidak ada masalah) kepada setiap orang yang kita temui, baik itu orang sederajat, orang yang lebih "rendah" dari kita, maupun orang yang lebih "tinggi" dari kita.

Kasih harus diwujudkan kepada semua orang tanpa perkecualian, bukan ? Bentuk wajah kita juga mencerminkan kasih kita kepada orang lain. Muka cemberut, sedih, merengut ... tak lain hanya menunjukkan bentuk ingin dikasihani, bukan mengasihi kepada orang lain. Anda setuju dengan hal ini ? Ayo kita berubah.. tampil senyum dan bermuka gembira senantiasa. Bersyukur atas segala rahmat Tuhan akan membuat wajah kita tidak akan nampak sedih karena Tuhan sudah mencukupkan kebutuhan kita kapan pun, dimanapun dan dalam segala keadaan apapun juga. Amen.

Thursday, May 22, 2008

Indahnya memberi

Helen Keller, seorang yang buta-tuli hingga akhir hidupnya karena sebuah sakit yang dideritanya pada umur 11 bulan, menjadi seorang yang dikenal sebagai orang pertama yang berhasil lulus dari sekolah tingkat perguruan tinggi. Dengan dibimbing oleh Anne Sulivan, seorang guru yang akhirnya mendedikasikan dirinya untuk mendidik Helen Keller dalam keadaan cacat, akhirnya segala jerih payah dan perjuangan Helen Keller untuk mengubah dunia menjadi tidak sia-sia. Banyak organisasi-organisasi sosial yang terinspirasi oleh cerita2 Helen Keller, bagaimana perjuangan dia ketika masih muda untuk menjadi orang yang berjuang di aras politik dengan dasar ideologi sosialis.

berikut kutipan perkataan beliau -----------------------------------------------------------
I was appointed on a commission to investigate the conditions of the blind. For the first time I, who had thought blindness a misfortune beyond human control, found that too much of it was traceable to wrong industrial conditions, often caused by the selfishness and greed of employers. And the social evil contributed its share. I found that poverty drove women to a life of shame that ended in blindness.
---------------------------------------------------------------------------------------------

Kebutaan bukan hanya bisa dilihat secara fisik, tetapi kebutaan juga bisa dilihat dari akibat kelemahan mental seseorang, kepasrahan diri seseorang untuk tidak berjuang dari kelemahannya untuk keluar dari kungkungan "kebutaan"nya.

Sungguh indah sebuah pernyataan dari Helen Keller ini. Ketika dia masih muda, banyak orang berpikir dia tidak akan bisa hidup lama karena penyakit di masa muda'nya yang mengakibatkan dia buta-tuli. Tetapi, sampai di penghujung hidupnya, dalam umur 88 tahun, dia tetap berkiprah untuk membuka mata dunia tentang arti kehidupan. Bahkan orang Jepang banyak yang tidak melupakan kiprah Keller bagi negara Matahari terbit ini. (kisah lengkapnya dapat dibaca di wikipedia)

Hidup tidak semata2 hanya karena meminta, tetapi juga memberi. Alangkah indahnya apabila kita hidup selalu memberi, tanpa meminta-minta. Helen Keller tidak memiliki apa-apa selain kemampuan untuk bertahan hidup dari keterbatasannya. Kemampuannya inilah yang menjadi inspirasi bagi semua orang yang hidup normal untuk senantiasa berusaha di kala dia susah. Kalau orang yang terbatas secara fisik saja mampu memberi, bagaimana dengan kita yang masih normal dan sehat walafiat ?

Marilah kita belajar memberi apa yang kita punyai, apa yang kita bisa berikan kepada orang lain. Bukan hanya perkara materi, tetapi juga hal-hal lain seperti ilmu, waktu, pemikiran, bantuan dan lain sebagainya.

Monday, May 19, 2008

Semua hanya perkara kebiasaan

Apabila anda diajukan pertanyaan, dimana tempat yang paling nyaman bagi Anda untuk tidur ?
a. Ranjang Spring bed
b. Ranjang katami (seperti orang Jepang / orang Korea)
c. Sofa empuk nan nyaman
d. Kursi direktur yang nyaman
e. lain-lain, sebutkan.......................

Mayoritas dari kita akan menjawab pilihan a, bukan ? Apabila orang Jepang atau Korea melihat pertanyaan ini, kemungkinan besar mereka akan menjawab b. Tetapi, bagaimana dengan pilihan c dan d? Siapa yang akan memilih pilihan ini ?

Di dalam keseharian kegiatan di lab, saya melihat seorang teman saya yang selalu nyenyak tidur di sebuah kursi. Kursi yang dibuat tidur tentunya bukan kursi kayu seperti kita jaman sekolah SD atau SMP dulu, atau juga kursi fiber atau dari bahan lain yang digunakan untuk perkuliahan. Kursi yang digunakan untuk tidur adalah kursi empuk nan nyaman, yang biasanya dipergunakan oleh para manager atau direktur sebuah perusahaan dan bisa diatur ketinggian serta kemiringan sandaran untuk kenyamanan penggunanya. Bahkan tipe sandarannya bisa diatur agar orang yang duduk dapat menikmati kenyamanan selama duduk di kursi tersebut.

Berdasarkan pengamatan saya, dia tidak tidur hanya barang 1 atau 2 jam. Tetapi, media kursi tersebut digunakan untuk layaknya kita tidur di rumah. Hampir setiap hari dia menikmati enaknya tidur di kursi pada jam tidur manusia normal. Cukup aneh bukan ?

Setelah sekian lama, saya mencoba berdiskusi dengan dia, mengapa kok dia bisa menikmati tidur di kursi nyaman tersebut, bukan tidur di rumah dengan hamparan spring bed atau katami yang biasa digunakan oleh orang Korea. Ada beberapa hal yang menarik untuk dikemukakan.

1. Faktor lokasi rumah
Rumah dia jauh dari kampus, sehingga dia memilih untuk tinggal di kampus daripada harus menghabiskan biaya transportasi ke rumahnya. Berhubung dia menggunakan mobil sebagai sarana transportasi, maka dapat dipastikan biaya yang ditimbulkan dari transportasi akan sangat besar (bensin, biaya perawatan, dsb.). Dengan kata lain, terpaksa harus tinggal di kampus untuk menghemat biaya.

2. Faktor kesibukan
Karena dia adalah pemimpin di lab, maka banyak pekerjaan yang diberikan ke dia. Lamanya perjalanan menuju rumah akan menimbulkan inefektivitas dan inefisiensi untuk melakukan pekerjaan. Mondar-mandir rumah-kampus sama dengna waktu yang dibutuhkan bagi dia untuk membaca sebuah journal Korea. Dengan kata lain, dia terpaksa tinggal di kampus agar pekerjaannya bisa selesai.

Kalau begitu, kenapa tidak beli ranjang atau sleeping bag untuk kenyamanan tidur di lab? Ternyata, kebijakan di jurusan kami adalah tidak memperbolehkan adanya ranjang atau tempat tidur di masing-masing laboratorium. Dan hal itu yang menyebabkan keterpaksaan seseorang untuk menikmati tempat tidur hanya berupa kursi yang nyaman.

Apakah enak tidur di kursi? Dia menjawab, hal ini sudah biasa dilakukan oleh dia dan orang-orang Korea lain. Karena kebiasaan, maka tidur di kursi itu menjadi sesuatu yang enak dan tidak menjadi masalah besar bagi keseharian dia.

Bagaimana dengan pendapat kita tentang hal ini? Setiap orang tentunya memiliki pandangan masing-masing tentang cerita di atas. Ada yang berpendapat bahwa orang ini pekerja keras (workaholic) sehingga dia akhirnya biasa untuk tidur di kursi. Ada yang berpendapat bahwa orang ini hidup pas-pasan sehingga dia hanya bisa menikmati kenyamanan sebuah kursi daripada mencari motel atau kos-kosan yang dekat dengan kampus. Ada yang berpendapat bahwa, itulah hidup orang Korea yang selalu diburu dengan deadline pekerjaan.

Masih banyak pendapat lain. Tetapi, saya tidak akan membahas pendapat itu satu per satu. Saya lebih ingin melihat makna kebiasaan di balik cerita ini. Bukankah sesuatu yang tidak nyaman akhirnya bisa nyaman karena faktor kebiasaan ? Bukankah sesuatu yang tidak enak akhirnya bisa jadi enak karena kebiasaan ? Bukankah sesuatu yang tidak biasa, akhirnya bisa jadi biasa karena dilakukan terus menerus ? Bukankah sesuatu yang tidak bisa akhirnya menjadi bisa karena faktor keterpaksaan ?

Ketika dalam kondisi "kepepet" atau terpaksa, maka manusia akan memiliki kemampuan untuk melakukan sesuatu yang di luar batas pemikirannya. Ketika kita "dipepet" atau dihadapkan dengan situasi yang sulit, maka kita akan berpikir untuk mencari sesuatu hal yang bisa dilakukan tanpa berpikir nyaman, enak, biasa, dan sebagainya. Pokok'nya bisa dikerjakan, pokoknya bisa dilalui, pokoknya bisa selesai, dll.

Faktor kebiasaan berawal dari faktor keterpaksaan. Seringkali manusia mengatakan bahwa dia tidak bisa melakukan pekerjaan A karena dia tidak pernah melakukannya. Si B tidak bisa melakukan pekerjaan C karena tidak biasa melakukannya. Namun, cerita di atas menunjukkan bahwa manusia diberi kemampuan oleh Tuhan untuk bisa mengatasi hambatan-hambatan atau keterbatasan-keterbatasan yang ada dengan segala hal. Dan, ketika kita biasa melakukannya (walaupun dengan terpaksa pada awalnya), maka kita akan merasa sesuatu yang tidak enak, sesuatu yang tidak nyaman, sesuatu yang tidak bisa... akan menjadi sesuatu yang nyaman, sesuatu yang enak, sesuatu yang menjadi kenikmatan tersendiri bagi kita.

Bagaimana dengan diri Anda ?

Wednesday, April 23, 2008

Leadership is a journey

Kepemimpinan sering diumpamakan sebagai sebuah perjalanan. Karena background saya dari Teknik Industri, dan saat ini sedang belajar ilmu Logistik, maka konsep kehidupan akan saya analogikan dengan konsep Logistik.

Logistik berhubungan dengan barang, orang atau sumber daya lain yang butuh disimpan, dikirim atau diterima dari tempat lain. Ini adalah sebuah definisi pribadi, yang mungkin berbeda dengan konsep Logistik secara keilmuan. Ambillah sebuah contoh aktivitas logistik, yaitu transportasi.

Transportasi, adalah sebuah fungsi untuk menyalurkan barang atau sumber daya lain dari suatu tempat ke tempat lain dalam rangkaian kegiatan logistik. Kegiatan transportasi memiliki biaya yang dapat dihitung langsung, biaya yang dapat diperkirakan dan biaya yang tidak dapat diperkirakan.

Biaya yang dapat dihitung langsung seperti :
1. Biaya bensin
2. Biaya driver per satuan waktu
3. Biaya mengangkut barang atau sumber daya ke alat transportasi per satuan barang atau per satuan waktu, dll....

Biaya yang dapat diperkirakan :
1. Biaya maintenance / perawatan dari alat transportasi
2. Biaya faktor penurunan nilai atau depresiasi karena utilitasi alat tersebut, dll.
3. Pajak kendaraan
4. Asuransi kendaraan

Biaya yang tak dapat diperkirakan :
1. Retribusi jalan
2. Biaya tak terduga, seperti pungutan liar dsb.

Biaya yang disebutkan diatas adalah biaya variabel, biaya yang terjadi akibat adanya aktivitas transportasi. Tetapi, kita juga perlu menghitung biaya tetap (fixed cost) yaitu pengadaan alat transportasi tersebut.
Biaya Tetap (yang berefek pada penurunan nilai kendaraan):
1. Pembelian alat
2. Pembelian aksesoris alat transportasi (untuk keamanan, untuk kenyamanan, dsb.)

Nah, bagaimana kita dapat melihat transportasi ini menjadi sebuah hikmat kepemimpinan ?

Mari kita teliti lebih dalam.
Hidup kita tidak lain adalah investasi. Sekolah atau pelajaran yang harus kita selami di bangku sekolah, mulai TK, SD, SMP, SMU, bahkan ada yang hingga S3 atau bahkan ujian profesional untuk kepentingan karir, semuanya adalah investasi yang berupa biaya tetap. Semua hal tersebut membutuhkan biaya yang sangat besar (20 tahun lebih) hanya untuk membekali diri siap terjun ke dalam masyarakat dan berkiprah di dunia yang sedang digeluti.

Dan setiap momen kehidupan yang kita jalani... tentunya membutuhkan biaya yang tidak lain adalah biaya variabel kehidupan. Biaya kecil-kecil yang tidak pernah kita bayangkan seperti biaya makan, sandang dan papan yang disediakan oleh orang tua kita menjadi pelengkap bagi "transportasi" diri kita dari kecil hingga dewasa.

Pernahkah anda membayangkan, berapa uang yang telah dihabiskan selama anda hidup ? Itulah biaya untuk membentuk seorang pemimpin. Permasalahannya adalah, seberapa efektif anda saat ini ? apakah anda sudah merasa menjadi seorang pemimpin yang efektif dengan bekal investasi hidup anda ?
Kalau anda sudah berusia 25 tahun, apakah anda sudah merasa efektif dan sampai pada sebuah titik tujuan transportasi tersebut ? Anda sedang berada di terminal logistik yang mana ? Apakah anda merasa transportasi anda telah berjalan dengan baik ?

Biaya yang keluar sudah sangat banyak selama kehidupan anda. Sudah saatnya anda mengukur efektivitas kehidupan Anda. Tentukanlah tujuan hidup anda, seperti halnya transportasi logistik. Kemana anda melangkah, maka akan timbul biaya. Dan, jangan sia2kan biaya yang akan dikeluarkan untuk perjalanan anda.

Selamat menempuh perjalanan kepemimpinan anda........

Friday, February 22, 2008

Lokalisasi vs Globalisasi

Jangan salah persepsi tentang arti lokalisasi dalam bahasan ini. Bisa jadi, ada orang yang berpendapat bahwa lokalisasi bermakna negatif, seperti yang biasa disebutkan dalam media massa. Bahasan kali ini mau memperlihatkan pentingnya adaptasi sebagai langkah awal menuju pencapaian sebuah visi.

Kita telah tahu apa yang dimaksud dengan globalisasi. Ternyata, dampak globalisasi membuat kita mengesampingkan budaya lokal dimana tempat kita berada. Kalau kita penduduk Indonesia dan berada di Indonesia, maka kita akan lebih mudah menyesuaikan diri karena kebiasaan hidup kita terbentuk pada budaya yang sama. Lain halnya dengan penduduk Indonesia yang harus bertinggal di negara lain, seperti halnya saya pribadi di Korea Selatan. Hal ini memberi pelajaran bagi saya pribadi untuk beradaptasi pada lingkungan tempat saya tinggal.

Adaptasi terhadap sebuah lingkungan lokal, atau saya sebut dengan lokalisasi lebih mengedepankan masalah bagaimana mengatur dan menyesuaikan diri dengan budaya lokal setempat. Ketika kita beradaptasi, apakah kita mengubah diri kita sendiri ? Apakah kita menjadi bunglon yang siap berubah warna dimanapun kita ditempatkan ?

Berbeda itu indah. Ada hal-hal prinsip yang memang tidak perlu kita ubah ketika kita hidup di negara orang lain. Tetapi ada hal-hal esensial lain yang perlu kita adaptasi dan lakukan sehubungan dengan tata krama dan etika di negara orang lain. Cara menyapa dengan membungkukan badan, sikap hormat kepada orang yang lebih tua, bersikap rendah hati terhadap senior dan beberapa bentuk sikap lain yang harus ditunjukkan di hadapan orang yang lebih tua - adalah sebuah bentuk kebiasaan yang perlu diadaptasi oleh orang asing untuk bisa menjadi akrab dengan orang setempat di Korea Selatan.

Satu pengalaman yang membuat saya terkejut pada minggu ini adalah diberhentikannya salah seorang anggota laboratorium dari lab saya (orang asing). Setahu saya, orang ini cukup berminat untuk belajar di laboratorium saya. Namun, mengapa dosen saya memilih untuk mengeluarkan dia daripada mempertahankannya?

Satu hal yang saya pelajari adalah - tidak adanya kesediaan dari teman saya untuk beradaptasi dengan kondisi di lab saya. Pemikiran globalisasi selalu menghinggap di pemikirannya. Bahkan segala tradisi lokal yang dimilikinya dipertahankan dengan pemikiran bahwa dia adalah orang asing di tempat ini. Sikap hormat kepada orang yang lebih tua, menyapa pada orang lain bahkan berusaha belajar bahasa Korea pun tidak mau dilakukannya hanya karena kebiasaan yang berbeda dengan negara dia berasal.

Belum lagi faktor2 lain yang berhubungan dengan orang Korea, seperti lebih mementingkan kelompok daripada individual, terbuka dan siap untuk berargumentasi ternyata tidak bisa dijembatani dengan baik. Banyak pekerjaan kelompok yang akhirnya harus terbengkalai karena kelalaian dari teman saya. Bukan hanya lalai, karena dia merasa hal itu bukan pekerjaannya. Individualistis dan liberalistis (pengaruh globalisasi) yang dia miliki terbawa pada lingkungan dimana dia berada.

Alhasil, penilaian dosen saya cukup akurat. Tidak ada kontribusi real yang dibawa oleh rekan saya. Meskipun dia cukup pintar dalam masalah bahasa Inggris dan sebuah topik analisis Industri, tetapi dosen saya memilih untuk memberhentikan dengan hormat daripada memberi instabilitas pada performansi laboratorium.

Siapa yang salah ? Orang asing atau orang Korea ? Buat saya, ketika kita berani memilih hidup di negara asing, artinya kita siap untuk belajar "lokalisasi" dari negara tersebut. Kita harus bisa beradaptasi dengan lingkungan sekitar dan merangkul orang-orang di sekitar kita. Sebagai mahluk sosial, kita perlu bergaul dan mencari pandangan baru tentang kehidupan, bukan hanya sekedar untuk mencari keilmuan yang bisa didapat dari internet.

Kesimpulan saya, jangan melihat pentingnya globalisasi saja. Tetapi perhatikan dengan lokalisasi dimana kita berada saat ini. Ketika kita berada di negara A, maka kita harus belajar kebiasaan negara A untuk beradaptasi dan mencari relasi yang lebih luas lagi. Ketika kita berada di negara B keesokan harinya, maka kita harus belajar beradaptasi dengan kebudayaan negara B untuk mencari relasi yang lebih luas lagi. Tentu saja, jangan mengaburkan arti adaptasi dengan merubah diri kita sendiri.

Ada hal2 esensial dari diri kita yang perlu dipertahankan. Apabila kita mengetahui bahwa memukul kepala adalah hal yang buruk, maka meski negara lain memiliki kebiasaan memukul kepala - kita tidak perlu mengikuti kebiasaan itu. Apabila kita mengetahui bahwa tidak pantas untuk berkata-kata dengan membentak-bentak, maka kita tidak perlu beradaptasi dengan lingkungan dengan mengubah cara kita berkomunikasi dengan membentak-bentak seperti yang dilakukan orang Korea.

Segala sesuatunya memiliki nilai positif dan negatif. Silakan melakukan hal-hal yang kita pandang sebagai hal yang positif dan mengesampingkan hal-hal yang kita pandang sebagai hal yang negatif. Jangan hanya berpikir globalisasi - pikirkan juga lokalisasi.

Saturday, January 19, 2008

Kebudayaan - salah satu hambatan dalam memiliki visi

Salah satu hambatan utama yang membuat manusia susah dalam memiliki visi adalah -KEBUDAYAAN. Pada dasarnya, manusia terbentuk sesuai dengan lingkungan dimana dia dilahirkan, lingkungan dimana dia dibesarkan, lingkungan dimana dia dibentuk. Lingkungan tempat dia dilahirkan, dibesarkan dan dibentuk akan membuat dia memiliki sebuah kebiasaan yang sering kita sebut sebagai budaya.

Kalau orang di sekitar kita sering terlambat dalam sebuah pertemuan, maka kita akan bisa tertular dengan kebiasaan tersebut... dan akhirnya kita bisa memiliki budaya terlambat. Kalau orang di sekitar kita sering makan permen karet sebagai sebuah kebiasaan untuk mencuci mulut setelah makan, maka kita juga akan memilki budaya makan permen karet untuk membuat bau mulut menjadi segar setelah makan.

Budaya adalah sesuatu yang dihasilkan dari proses berkepanjangan dan menjadi sebuah rutinitias - atau mendarah daging dalam hidup keseharian kita. Karena proses tersebut telah membuat kita terbiasa, maka akhirnya kebiasaan itu membudaya luas pada orang-orang yang berada di sekitar kita, yang pada akhirnya juga "senjata makan tuan" pada karakter kita sendiri.

Hal ini akan menghambat diri kita untuk melihat sesuatu dengan perspektif yang berbeda. Hal ini akan menutup mata kita terhadap hal-hal lain yang sepertinya susah tetapi justru hal tersebut lebih baik dari kebiasaan kita.
Contoh... budaya terlambat adalah sesuatu yang sangat umum ketika saya ada di Indonesia. Tetapi, ketika saya tiba di Korea, saya sadar bahwa saya harus bisa menempatkan diri seperti layaknya seorang Korea. Pernah suatu kali saya terlambat 5 menit. Amarah yang saya terima lebih dari 5 menit.... sehingga saya mengevaluasi diri saya untuk lebih tepat waktu.

Begitulah dengan membentuk VISI pribadi. Seringkali VISI kita tidak akan terlepas dari kebudayaan dimana kita berada. Sangat susah bagi kita untuk mencari "PENGLIHATAN" di luar lingkungan kita, di luar kebudayaan kita, di luar lingkungan kita. Kalau begitu, bagaimana supaya kita bisa memiliki visi yang melihat jangka panjang sebagai sebuah tujuan?

Benturan budaya adalah sebuah cara untuk membentuk diri kita menjadi tangguh dalam beradaptasi di budaya yang berbeda. Ketika kita hidup sendirian di luar negeri, di luar daerah kita, .. ketika kita tinggal bersama dengan orang yang tidak satu daerah dengan kita, tinggal dengan orang yang tidak satu bahasa dengan kita, .. maka kita akan mengalami banyak benturan-benturan kebudayaan.

Apabila kita bisa melihat hal yang positif dari benturan ini, maka kita akan mengambil hal yang positif untuk menjadi bagian dari dalam diri kita.. dan membuang yang negatif agar tidak melekat dalam diri kita. Dan hal ini perlu dilakukan terus menerus, seperti halnya sebuah pisau - semakin diasah maka pisau tersebut akan semakin tajam.

Jangan lelah untuk "MELIHAT" budaya yang berbeda. "MENCICIPI" kebudayaan yang berbeda adalah hal yang sah dan tidak melanggar hukum. Dan, akan lebih baik untuk mengasah dengan budaya lain yang positif daripada sekedar mengasah diri kita dengan kebudayaan yang telah melekat puluhan tahun dalam diri kita.

Seorang teman saya selalu berkata bahwa dirinya hanya mau sekolah supaya pintar. Hal ini karena dia melihat teman2 di daerahnya banyak yang tidak sekolah dan orang tuanya mengenyam pendidikan hingga SMP. Karena dia hanya ingin menjadi orang pintar, maka dia cuma menginginkan lulus S1. Dia sengaja memilih teman yang tepat agar bisa mencapai mimpinya, lulus S1. Teman-temannya adalah orang-orang yang rajin dan tekun dalam belajar. Dan, pada akhirnya hal ini membuat dia termotivasi untuk semakin belajar hal-hal yang baru. Bahkan dia termotivasi untuk bisa belajar di luar negeri. Namun, ekonomi menjadi masalah bagi hidup dan keluarganya. Tiba saatnya untuk dia lulus, ternyata di luar dugaan, dia mendapat kesempatan untuk bisa sekolah di luar negeri dengan beasiswa. Dia adalah seorang yang tidak pernah merasakan hidup di luar negeri. Akhirnya dia pun bisa berangkat dengan bekal uang pinjaman dan sukses menyelesaikan master'nya. Saat ini, dia memiliki visi seperti orang-orang di tempat dia belajar untuk gelar magister'nya. Pengaruh selama 2 tahun di S2 mengubah kebudayaan hidupnya selama 20 tahun di Indonesia. Dan, sekarang dia bekerja di sebuah perusahaan Multinasional ditambah dengan berbagai usaha sampingan yang dia jalankan untuk dapat hidup lebih layak daripada sebelumnya.

Berbeda dengan teman saya yang lain, dalam posisi yang sama dengan teman pertama saya. Orang tuanya ingin melihat dia berhasil. Dia dari keluarga yang mampu dan dikirim ke Surabaya untuk jadi lebih terdidik (S1). Karena kondisi terkekang selama dia hidup hingga SMU, Alhasil, tahun pertamanya dihabiskan untuk memuaskan dirinya dengan hal-hal duniawi bersama dengan teman-teman yang "berandal". Dia menghabiskan 1 tahun untuk menikmati kehidupan di masa muda. Dan, saat ini... dia menghadapi resiko DO (drop out) dari studinya. Kehidupan yang tidak bervisi dan tidak memiliki arah.. serta pergaulannya dengan orang-orang buruk membuat dia harus mengalami ketidaknyamanan dalam hidup - tidak lulus S1. Dan banyak caci maki akibat kesalahan dalam pergaulan.. dan tidak mau lepas dari kebudayaan dunia yang lebih menawarkan kenikmatan.

Selama masih ada kesempatan, gunakan waktu Anda untuk "MELIHAT" dunia luar daripada "PUAS" dengan keberadaan Anda saat ini. Jangan takut terhadap hal-hal yang bisa "membentur" Anda. Selama hal tersebut BAIK, BENAR dan BERGUNA... perjuangkan itu, raihlah itu, dan bagikan hal itu kepada orang lain. FIGHTING !!